Selasa, 01 Oktober 2019

ASAM-BASA

REAKSI ASAM-BASA



A.    Teori Asam Basa

1.      Asam Basa Arrhenius
-          Asam adalah zat yang dapat melepaskan ion H+
 jika dilarutkan dalam air.
Contoh :  HCl  → H+  + Cl-
-          Basa adalah zat yang dapat melepaskan ion OH- jika dilarutkan dalam air.
Contoh :NaOH → Na+  + OH

2.      Asam Basa Bronsted-Lowry
-          Asam adalah zat yang dapat memberikan  (donor proton).
-          Basa adalah zat yang dapat menerima  (aseptor proton).
Pada teori ini terdapat istilah pasangan asam-basa konjugasi.
Contoh :   CH3COOH  +     H2O       CH3COO-   +       H3O         
            (asam)             (basa)          (basa konjugasi)         (asam konjugasi)

3.      Asam Basa Lewis
Teori ini dilihat dari sisi elektron (Pasangan Elektron Bebas / PEB).
-       Asam adalah zat yang menerima (aseptor) PEB.
-       Basa adalah zat yang memberi (donor) PEB.




B.    Reaksi Penetralan

Reaksi penetralan merupakan reaksi asam denga basa menghasilkan garam dan air.
Asam + Basa →  Garam + Air

                        Karena air bersifat netral, reaksi asam-basa disebut reaksi penetralan. Selain membentuk air, reaksi asam-basa juga membentuk garam yang merupakan hasil reaksi antara sisa asam dan sisa basa. Jika garam yang terbentuk mudah larut maka ionnya tetap ada dalam larutan sehingga terbentuk larutan elektrolit. Jika garam yang terbentuk sukar larut maka terbentuklah endapan garam. Karena membentuk garam, reaksi asam-basa juga disebut reaksi penggaraman.


M1 . V1 . a = M2 . V2 . b
M1 = konsentrasi zat 1
M2 = konsentrasi zat 2
V1 = volume zat 1
V2 = volume zat 2
a = valensi asam (jumlah H+)
b = valensi basa (jumlah OH)


C.    Larutan Bufer/Penyangga

Larutan penyangga/dapar adalah suatu larutan yang dapat mempertahankan pH larutan apabila ditambahkan sedikit asam atau basa. Larutan penyangga terjadi karena adanya campuran asam lemah dan basa konjugasinya (dalam garam) atau basa lemah dengan asam konjugasinya (dalam garam).
1.      Larutan Bufer Asam
Larutan yang terbentuk dari asam lemah dengan basa konjugasinya.


            keterangan:
            Ka = tetapan ionisasi asam lemah
             a = jumlah mol asam lemah
              b.k = jumlah mol basa konjugasi 







2.      Larutan Bufer Basa
Larutan yang terbentuk dari basa lemah dengan asam konjugasi.

       keterangan:
             Ka = tetapan ionisasi asam lemah
              a = jumlah mol asam lemah

           b.k = jumlah mol basa konjugasi








D.    Hidrolisis Garam
Hidrolisis adalah reaksi antara anion asam lemah atau kation basa lemah dengan  membentuk ion  atau . Hidrolisis garam terjadi jika minimal salah satu dari komponennya berupa asam lemah atau basa lemah
1.      Garam dari asam kuat dan basa lemah akan terhidrolisis sebagian dan larutan bersifat asam (pH <7).
             keterangan:
               Kh = tetapan hidrolisis
               Kw = tetapan keseimbangan air
                Kb = tetapan ionisasi basa lemah
                M = konsentrasi kation yang terhidrolisis


2.   Garam  dari asam lemah dan basa kuat akan terhidrolisis sebagian dan larutan bersifat basa (pH >7).
    keterangan:
       Kh = tetapan hidrolisis
       Kw = tetapan keseimbangan air
       Ka =tetapan ionisasi asam lemah
       M = konsentrasi anion yang terhidrolisis



3.      Garam dari asam lemah dan basa lemah akan terhidrolisis sempurna. Sifat larutan biasa asam, basa atau netral. Larutan ini ditentukan oleh  atau . Jika:



Referensi: 
1. Susilowati, E. 2012.KIMIA.Solo : PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri
2. Tentor. F. 2018.THE KING SBMPTN SAINTEK 2019. Bantul : 

Minggu, 22 September 2019

IKATAN KIMIA DAN STRUKTUR


IKATAN KIMIA DAN STRUKTUR




Pengertian Ikatan Kimia

Antara dua atom atau lebih dapat saling berinteraksi dan membentuk molekul. Interaksi ini selalu disertai dengan pelepasan energi. Adapun gaya-gaya yang menahan atom-atom dalam molekul merupakan suatu ikatan yang dinamakan ikatan kimia. Ikatan kimia terbentuk karena unsur-unsur cenderung membentuk struktur elektron stabil. Walter Kossel dan Gilbert Lewis pada tahun 1916 menyatakan bahwa terdapat hubungan antara stabilnya gas mulia dengan cara atom berikatan. Mereka mengemukakan bahwa jumlah elektron terluar dari dua atom yang berikatan, akan berubah sedemikian rupa sehingga susunan kedua elektron kedua atom tersebut sama dengan susunan gas mulia. Kecenderungan atom-atom untuk memiliki struktur atau konfigurasi elektron gas mulia atau 8 elektron pada kulit terluar disebut kaidah oktet. Elektron yang berperan   dalam reaksi kimia yaitu elektron pada kulit terluar atau elektron valensi. Elektron valensi menunjukan kemampuan suatu atom untuk berikan dengan atom lain.

Klasifikasi Ikatan Kimia
Secara umum, ikatan kimia dapat digolongkan menjadi dua jenis, yaitu:

1. Ikatan Antar Atom

a.      Ikatan Elektrovalen atau Ion

Ikatan ion terbentuk akibat adanya melepas atau menerima elektron oleh atom-atom yang berikatan. Atom-atom yang melepas elektron menjadi ion positif (kation) sedang atom-atom yang menerima elektron menjadi ion negatif (anion). Ikatan ion biasanya disebut ikatan elektrovalen. Senyawa yang memiliki ikatan ion disebut senyawa ionik. Senyawa ionik biasanya terbentuk antara atom-atom unsur logam dan nonlogam. Atom unsur logam cenderung melepas elektron membentuk ion positif, dan atom unsur nonlogam cenderung menangkap elektron membentuk ion negatif .
Contoh: NaCl, MgO, dan lain-lain.

Na  + Cl [Na] +  [   Cl  ]-

Ca  + 2 Br [Ca]++ [  Br  ]2-

2 K + O [K ]2  [  O  ]2+

Dalam hal ini, kation terionisasi dan melepaskan sejumlah elektron hingga mencapai jumlah oktet yang disyaratkan dalam aturan Lewis. Sifat-Sifat ikatan ionik adalah:
  • Senyawa ion berupa elektrolit
  • Biasanya zat padat yang memiliki titik leleh yang tinggi
  • Tidak larut dalam pelarut organik tetapi larut dalam pelarut air


b.      Ikatan Kovalen


Ikatan kovalen merupakan ikatan kimia yang terbentuk dari pemakaian elektron bersama oleh atom-atom pembentuk ikatan. Ikatan kovalen biasanya terbentuk dari unsur-unsur nonlogam. Dalam ikatan kovalen, setiap elektron dalam pasangan tertarik ke dalam nukleus kedua atom. Tarik menarik elektron inilah yang menyebabkan kedua atom terikat bersama.
Ikatan kovalen terjadi ketika masing-masing atom dalam ikatan tidak mampu memenuhi aturan oktet, dengan pemakaian elektron bersama dalam ikatan kovalen, masing-masing atom memenuhi jumlah oktetnya. Hal ini mendapat pengecualian untuk atom H yang menyesuaikan diri dengan konfigurasi atom dari yang tidak terlibat dalam ikatan kovalen disebut elektron bebas. Elektron bebas ini berpengaruh dalam menentukan bentuk dan geometri molekul.

c.       Ikatan Kovalen Koordinasi
Ikatan kovalen koordinat merupakan ikatan kimia yang terjadi apabila pasangan elektron bersama yang dipakai oleh kedua atom disumbangkan oleh salah satu atom saja. Sementara itu atom yang lain hanya berfungsi sebagai penerima elektron berpasangan saja.
Syarat-syarat terbentuknya ikatan kovalen koordinat:
  • Salah satu atom memiliki pasangan elektron bebas
  • Atom yang lainnya memiliki orbital kosong
  • Susunan ikatan kovalen koordinat sepintas mirip dengan ikatan ion, namun kedua ikatan ini berbeda oleh karena beda keelektronegatifan yang kecil pada ikatan kovalen koordinat sehingga menghasilkan ikatan yang cenderung mirip kovalen




d.      Ikatan logam
Ikatan logam merupakan salah satu ciri khusus dari logam, pada ikatan logam ini elektron tidak hanya menjadi milik satu atau dua atom saja, melainkan menjadi milik dari semua atom yang ada dalam ikatan logam tersebut. Elektron-elektron dapat terdelokalisasi sehingga dapat bergerak bebas dalam awan elektron yang mengelilingi atom-atom logam. Akibat dari elektron yang dapat bergerak bebas ini adalah sifat logam yang dapat menghantarkan listrik dengan mudah. Ikatan logam ini hanya ditemui pada ikatan yang seluruhnya terdiri dari atom unsur-unsur logam semata. Sifat-sifat umum sebagai berikut:
  •  Penghantar listrik dan panas yang baik
  •  Keras, mudah ditempa dan ditarik
  • Titik lebur dan titik didih tinggi
  • Mengkristal dengan bilangan koordinasi  tinggi, yaitu 12 atau 14 Sifat-sifat diatas tidak dapat dijelaskan dengan ikatan ion atau kovalen, hingga ikatan yang khusus, yang disebut ikatan logam




2.  Ikatan Antara Molekul

a.      Ikatan Hidrogen



Ikatan hidrogen merupakan gaya tarik menarik antara atom H dengan atom lain yang mempunyai keelektronegatifan besar pada satu molekul dari senyawa yang sama. Ikatan hidrogen merupakan ikatan yang paling kuat dibandingkan dengan ikatan antar molekul lain, namun ikatan ini masih lebih lemah dibandingkan dengan ikatan kovalen maupun ikatan ion.
Ikatan hidrogen ini terjadi pada ikatan antara atom H dengan atom N, O, dan F yang memiliki pasangan elektron bebas. Hidrogen dari molekul lain akan bereaksi dengan pasangan elektron bebas ini membentuk suatu ikatan hidrogen dengan besar ikatan bervariasi. Kekuatan ikatan hidrogen ini dipengaruhi oleh beda keelektronegatifan dari atom-atom penyusunnya. Semakin besar perbedaannya semakin besar pula ikatan hidrogen yang dibentuknya
Kekuatan ikatan hidrogen ini akan mempengaruhi titik didih dari senyawa tersebut. Semakin besar perbedaan keelektronegatifannya maka akan semakin besar titik didih dari senyawa tersebut. Namun, terdapat pengecualian untuk H2O yang memiliki dua ikatan hidrogen tiap molekulnya. Akibatnya, titik didihnya paling besar dibanding senyawa dengan ikatan hidrogen lain, bahkan lebih tinggi dari HF yang memiliki beda keelektronegatifan terbesar.

b.      Ikatan Van Der Walls



Gaya Van Der Walls dahulu dipakai untuk menunjukan semua jenis gaya tarik menarik antar molekul. Namun kini merujuk pada gaya-gaya yang timbul dari polarisasi molekul menjadi dipol seketika. Ikatan ini merupakan jenis ikatan antar molekul yang terlemah, namun sering dijumpai diantara semua zat kimia terutama gas. Pada saat tertentu, molekul-molekul dapat berada dalam fase dipol seketika ketika salah satu muatan negatif berada di sisi tertentu. Dalam keadaan dipol ini, molekul dapat menarik atau menolak elektron lain dan menyebabkan atom lain menjadi dipol. Gaya tarik menarik yang muncul sesaat ini merupakan gaya Van der Walls.
Gaya tarik Van Der Walls, tersusun dari beberapa gaya tarik antar molekul. Gaya-gaya tersebut ialah: gaya orientasi (dalam Kiesom, 1912), gaya induksi ( dalam Debey, 1920), dan gaya dispersi (dalam London, 1930). Bila molekul-molekul yang membentuuk kristal molekuler mempunyai momen dipol, seperti molekul HCl, H2O, dan NH3, maka akan terjadi gaya tarik dipol-dipol, apabila molekul-molekul mempunyi orientasi yang tepat. Gaya yang timbul dusebut gaya orientasi.
Gaya tarik molekul atau atom non polar dengan molekul polar cukup besar karena adanya induksi kepada molekul atau atom yang non polar. Gaya tarik yang terjadi disebut gaya induksi.


Faktor Geometri
1.      Jari-jari atomik dan ionik
➯Jari-jari logam secara eksperimen mendifinisikan separuh jarak atom logam antara dua atom yang sama terikat secara bersama oleh ikatan kovalen

➯Jari-jari kovalen secara eksperimen merupakan separuh jarak antar inti atom 

➯Jari-jari Ionik berkaitan dengan jarak antara 2 inti yang terhubung oleh ikatan eletrostatik antara kation dan anion masing-masing unsur




2.      Entalpi kisi
Ketika ion-ion dalam keadaan gas bereaksi satu dengan yang lainnya membentuk senyawa kemudian melepaskan entalpi atau mengubah nilai entalpi, itulah yang disebut entalpi kisi. Sebagai contoh adalah pembentukan NaCl yang biasanya melepaskan kalor ke lingkungan:

Na+ (g) + Cl - (g) NaCl (s)



3.      Tetapan madelung
Energi Potensial Coulomb total antar ion dalam senyawa ionik yang terdiri atas ion A dan ion B adalah penjumlahan eneri potensial Coulomb interaksi ion individual.  Karena lokasi ion-ion dalam kristal ditentukan oleh tipe struktur potensial Coulomb total antar ion dihitung dengan menentukan jarak antar ion d. A adalah Tetapan Madelung yang khas untuk tiap kristal. Interaksi elektrostatik antara ion-ion yang bersentuhan merupakan yang terkuat dan tetapan Madelung juga akan meningkat dengan semakin besarnya bilangan koordinasi. 



4.      Struktur Kristal logam dan ionik
Struktur kristal logam Kebanyakan bahan logam mempunyai tiga struktur kristal:
➤kubus berpusat muka (face-centered cubic).

Gambar 2a menunjukkan model bola pejal sel satuan FCC,
Gbr 2b: pusat-pusat atom digambarkan dengan bola padat kecil
Sel satuan FCC yang berulang dalam padatan kristalin sama seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1.
Struktur FCC mempunyai sebuah atom pada pusat semua sisi kubus dan sebuah atom pada setiap titik sudut kubus. Beberapa logam yang memiliki struktur kristal FCC yaitu tembaga, aluminium, perak, dan emas (lihat Tabel 1).
Sel satuan FCC mempunyai empat (4) buah atom, yang diperoleh dari jumlah delapan seperdelapan-atom pada delapan titik sudutnya plus enam setengah-atom pada enam sisi kubusnya (8 1/8  + 6 1/2).
Atom-atom atau inti ion bersentuhan satu sama lain sepanjang diagonal sisi. Hubungan panjang sisi kristal FCC, a, dengan jari-jari atomnya, R, ditunjukkan oleh persamaan berikut:

Tiap atom dalam sel satuan FCC ini dikelilingi oleh duabelas (12) atom tetangga, hal ini berlaku untuk setiap atom, baik yang terletak pada titk sudut maupun atom dipusat sel satuan (lihat Gambar 2a). Jumah atom tetangga yang mengelilingi setiap atom dalam struktur kristal FCC yang nilainya sama untuk setiap atom disebut dengan bilangan koordinasi (coordination number). Bilangan koordinasi struktur FCC adalah 12. Faktor tumpukan atom (atomic packing factor, APF) adalah fraksi volum dari sel satuan yang ditempati oleh bola-bola padat, seperti ditunjukkan oleh persamaan berikut:


➤kubus berpusat badan (body-centered cubic)

o3

Struktur kristal kubus berpusat badan (BCC): (a) gambaran model bola pejal sel satuan BCC, (b) Sel satuan BCC digambarkan dengan bola padat kecil, (c) Sel satuan BCC yang berulang dalam padatan kristalin.
  • Logam–logam dengan struktur BCC mempunyai sebuah atom pada pusat kubus dan sebuah atom pada setiap titik sudut kubus
  • Sel satuan BCC mempunyai dua (2) buah atom, yang diperoleh dari jumlah delapan seperdelapan atom pada delapan titik sudutnya plus satu atom pada pusat kubus (8 1/8 + 1).
  • Atom-atom atau inti ion bersentuhan satu sama lain sepanjang diagonal ruang. Hubungan panjang sisi kristal BCC, a, dengan jari-jari atomnya, R, diberikan sebagai berikut:
o4

Tiap atom dalam sel satuan BCC ini dikelilingi oleh delapan (8) atom tetangga (lihat Gambar 3a), sebagai akibatnya bilangan koordinasi struktur BCC adalah 8.Karena struktur BCC mempunyai bilangan koordinasi lebih kecil dibandingkan dengan bilangan koordinasi FCC, maka faktor tumpukan atom struktur BCC, yang bernilai 0.68, adalah juga lebih kecil dibandingkan dengan faktor tumpukan atom FCC.



➤heksagonal tumpukan padat (hexagonal close-packed)

o5

Gambar Struktur kristal heksagonal tumpukan padat (HCP): (a) sel satuan HCP digambarkan dengan bola padat kecil, (b) sel satuan HCP yang berulang dalam padatan kristalin.
  • Ciri khas logam–logam dengan struktur HCP adalah setiap atom dalam lapisan tertentu terletak tepat diatas atau dibawah sela antara tiga atom pada lapisan berikutnya
  • Sel satuan HCP mempunyai enam (6) buah atom, yang diperoleh dari jumlah dua-belas seperenam-atom pada dua belas titik sudut lapisan atas dan bawah plus dua setengah-atom pada pusat lapisan atas dan bawah plus tiga atom pada lapisan sela/tengah (12 1/6 + 2  1/2 + 3).
  • Jika a dan c merupakan dimensi sel satuan yang panjang dan pendek (lihat Gambar 4), maka rasio c/a umumnya adalah 1.633. Akan tetapi, untuk beberapa logam HCP, nilai rasio ini berubah dari nilai idealnya.
  • Bilangan koordinasi struktur HCP dan faktor tumpukannya sama dengan struktur FCC, yaitu 12 untuk bilangan koordinasi dan 0.74 untuk faktor tumpukan.
➤kristal ionik
Hasil gambar untuk kristal ionik
Struktur dasar kristal ion adalah ion yang lebih besar (biasanya anion) membentuk susunan terjejal dan ion yang lebih kecil (biasanya kation) masuk kedalam lubang oktahedral atau tetrahedral di antara anion. Kristal anion diklasifikasikan kedalam beberapa tipe struktur berdasarkan jenis kation dan anion yang terlibat dan jari-jarinya ionnya.

1.      Aturan Jari-Jari



Anion membentuk koordinasi polihedra disekeliling kation. Jari jari rX adalah separuh sisi polihedral dan jarak kation di pusat polihedral ke sudut polihedral merupakan jumlah jarijari kation dan anion rX + rM . Jarak dari pusat ke sudut polihedral  : √3rX  , √2rX,  ½ √6rX 


1.      Variasi Ungkapan Struktur Padatan
Banyak padatan anorganik memliki struktur 3-dimensi yang rumit. Senyawa anorganik yang rumit menggambarkan ikatan antar atom. Walaupun terdapat ikatan antar anion, strukturnya akan disederhanakan bila polihedra anion menggunakan dua sudut (muka atau sisi). Struktus ionik dianggap struktur terjejal anion.







Faktor Elektronik
1.      Muatan Inti Efektif
Karena muatan positif inti biasanya sedikit banyak dilawan oleh muatan negatif elektron dalam (di
bawah elektron valensi), muatan inti yang dirasakan oleh elektron valensi suatu atom dengan
nomor atom Z akan lebih kecil dari muatan inti, Ze.  Penurunan ini diungkapkan dengan  konstanta perisai σ, dan muatan inti netto disebut dengan muatan inti efektif, Zff
Muatan inti efektif bervariasi mengikuti variasi orbital dan jarak dari inti. 


2.      Energi Ionisasi
Energi ionisasi didefinisikan sebagai energi minimum yang diperlukan untuk mengeluarkan elektron dari atom dalam fasa gas (g), sebagaimana ditunjukkan dalam persamaan berikut. 
 
Energi ionisasi diungkapkan dalam satuan elektron volt (eV), 1 eV = 96.49 kJ/mol. Energi ionisasi pertama, yang mengeluarkan elektron terluar, merupakan energi ionisasi terendah, dan energi ionisasi ke-2 dan ke-3, yang mengionisasi lebih lanjut kation, meningkat dengan cepat. Entalpi ionisasi, yakni perubahan entalpi standar proses ionisasi dan digunakan dalam perhitungan termodinamika, adalah energi ionisasi yang ditambah dengan RT (R adalah tetapan gas 8.31451 J/Kmol dan T adalah temperatur, 2.479 kJ (0.026 eV), pada suhu kamar).  Perbedaan kedua parameter ini kecil.  Energi ionisasi pertama bervariasi secara periodik dengan nomor atom dalam tabel periodik, dengan unsur di kiri bawah tabel (cesium, Cs) memiliki energi ionisasi pertama yang terkecil dan unsur yang terkanan dan teratas (helium, He) adalah yang terbesar.  Dapat dipahami bahwa unsur alkali umumnya memiliki energi ionisasi terendah sebab unsur-unsur ini akan terstabilkan dengan pengeluaran satu elektron terluar untuk mencapai konfigurasi gas mulia.Unsur-unsur gas mulia memiliki struktur elektronik yang stabil, dan dengan demikian energi ionisasinya terbesar.  Walaupun energi ionisasi meningkat hampir secara monoton dari logam alkali sampai gas mulia, ada penurunan di beberapa tempat, seperti antara nitrogen N dan oksigen O, serta antara fosfor p  dan belerang S.

1.      Afinitas Elektron

Afinitas elektron adalah negatif entalpi penangkapan elektron oleh atom dalam fasa gas, sebagaimana ditunjukkan dalam persamaan berikut dan dilambangkan dengan A(= -∆H). Afinitas elektron dapat dianggap entalpi ionisasi anion.  Karena atom halogen mencapai konfigurasi elektron gas mulia bila satu elektron ditambahkan, afinitas elektron halogen bernilai besar.



1.      Ke-Elektronegatifan
L. Pauling mendefinisikan ke-elektrogenativan sebagai besaran kuantitatif karakter ionik ikatan.  Awalnya persamaan berikut diusulkan untuk mendefinisikan karakter ionik ikatan antara A dan B.

D adalah energi ikatan kovalen.  Namun, kemudian diamati ∆ tidak selalu positif, dan Pauling
memodifikasi definisinya dengan:
dan meredefinisikan karakter ionik ikatan A-B.  Lebih lanjut, ke-elektronegativan χ didefinisikan
dengan cara agar perbedaan ke-elektronegativam atom A dan B sebanding dengan akar kuadrat
karakter ion.  Di sini, koefisien 0.208 ditentukan agar kelektronegativan H 2.1 bila energi ikatan
dinyatakan dalam satuan kkal/mol.
Karena ke-elektronegativan Pauling meningkat dengan kenaikan bilangan oksidasi atom, nilai-nilai
ini berhubungan dengan bilangan oksidasi tertinggi masing-masing unsur.  Kelektronegativan yang
dihitung dengan nilai-nilai energi ikatan yang terbaru diberikan dalam Tabel.


A. L. Allred dan E. G. Rochow mendefinisikan ke-elektronegativan sebagai medan listrik di permukaan atom Zeff/r^2. Mereka menambahkan konstanta untuk membuat keelektronegativan

mereka χ sedekat mungkin dengan nilai Pauling dengan menggunakan r adalah jari-jari ikatan kovalen atom.  
Nampak hasilnya adalah unsur-unsur dengan jari-jari kovalen yang kecil dan muatan inti efektif
yang besar memiliki ke-elektronegativan yang besar. R. Mulliken mendefinisikan keelektronegatifan χM sebagai rata-rata energi ionisasi I dan afinitas elektron A sebagai berikut. 
Karena energi ionisasi adalah energi eksitasi elektronik dari HOMO dan afinitas elektron adalah
energi penambahan elektron ke LUMO, dalam definisi ini keelektronegativan dapat juga disebut rata-rata tingkat energi HOMO dan LUMO.  Unsur-unsur yang sukar diionisasi
dan mudah menarik elektron memiliki nilai ke-elektronegativan yang besar. Walaupun keelektronegativan didefinisikan dengan keadaan valensi dalam molekul dan memiliki dimensi
energi, hasil yang diperoleh dianggap bilangan tak berdimensi.


Referensi :
1. http://jirinramadhan.blogspot.com/2015/04/faktor-elektronik-yang-menentukan.html
2. http://makalahkimiaanorganikkelompok.blogspot.com/

ASAM-BASA

REAKSI ASAM-BASA A.     Teori Asam Basa 1.       Asam Basa Arrhenius -           Asam adalah zat yang dapat melepas...